UI GEOSCIENCE SEMINAR 12

Indonesia berada pada tempat bertemunya tiga lempeng besar dunia dan menjadi jalur ring of fire. Kondisi geografisnya yang seperti ini memicu maraknya bencana geologi, seperti gempa bumi dan gunung meletus yang terjadi di sini. Meskipun memiliki potensi kebencanaan yang cukup besar akibat letak wilayahnya ini, Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai energi, sehingga sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Potensi-potensi tersebut dapat berupa minyak bumi, gas bumi, batubara, geothermal, dan lain-lain. Potensi-potensi tersebut tersebar baik di onshore maupun offshore.

Namun sayang, potensi tersebut masih belum dikelola dengan maksimal. Hal tersebut dikarenakan berbagai kendala, mulai dari peralatan, biaya, lokasi, maupun SDM nya. Metode eksplorasi yang umum digunakan seperti metode seismik, magnetik, gravitasi, dan lain-lain masih memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan mulai dari alat yang sulit dibawa, area cakupan yang kecil, ketidakakuratan yang cukup besar, waktu eksplorasi yang lama, hingga biaya yang tinggi. Hal tersebutlah yang semakin memperkecil peluang kesuksesan dari eksplorasi. Oleh karena itu, dibutuhkanlah sebuah teknologi baru yang dapat meminimalisir risiko pada eksplorasi.

Sebuah teknologi yang dikembangkan oleh TERT yang dibentuk berdasarkan 3S (Space, Surface, Sub-Surface). Prinsip utama dari teknologi ini adalah dengan memanfaatkan satelit untuk melakukan remote sensing agar mengetahui keadaan sub-surface bumi. Pemodelan tentang Space menggunakan Sub-Terrain Prospecting (STeP) yang merupakan pengindraan jauh dan teknologi analisa yang menginterpretasikan satelit, kartografi, dan data geologi untuk memastikan keberadaan hidrokarbon, geothermal, dan potensi mineral di daerah tertentu. STeP ini dapat digunakan untuk meneliti daerah yang sulit dijangkau atau daerah dengan lingkungan yang sensitif.

Pemodelan Surface dilakukan menggunakan Natural Adsorbed Gas Surveys (NAGS). NAGS mempelajari gas yang tertutup rapat di mineral batuan berdasarkan model “gas flux” bumi. Penyebaran gas dipengaruhi oleh wilayah minyak dan gas atau endapan mineral yang memunculkan manifestasi anomali geokimia di permukaan.

Pemodelan Sub-Surface dilakukan menggunakan Side View Seismic Locator (SVSL) dan Seismic Location of Emission Centers (SLEC). SVSL merupakan teknologi mikro seismik yang membedakan zona rekahan terbuka (OFL). OFL ini banyak tercatat sebagai jalur untuk pengeboran sumur dengan produksi yang banyak. SLEC merupakan teknologi seismik pasif yang digunakan untuk menentukan tipe fluida, kontak minyak dengan air, dinamika reservoir, serta efektivitas waktu rekah hidrolik.

Penggunaan teknologi tersebut memberikan banyak keuntungan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan metode eksplorasi konvensional. Dengan menggunakan teknologi ini, kita dapat meningkatkan peluang kesuksesan eksplorasi menjadi 60-80%, meminimkan biaya produksi, dan mempersingkat waktu eksplorasi.

SESI TANYA JAWAB

Pada sesi tanya jawab, pertanyaan pertama diajukan oleh Monica dari Geosains yang menanyakan tentang bagaimana kesempatan eksplorasi geofisika, dan jawabannya adalah semuanya tergantung kepada perusahaan mau memilih metode eksplorasi yang mana.

Pertanyaan kedua oleh Kukuh dari Geosains yang menanyakan apakh teknologi tersebut mampu memprediksi besar dapur magma, dan jawabanya adalah bisa karena teknologi ini mampu mengkorelasikan antara permukaan dan bawah permukaan bumi, sehingga bisa memprediksi besar dapur magma.