UI GEOSCIENCE SEMINAR 16

Indonesia terbentuk dari 3 macam lempeng, yaitu Lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Pengamatan suatu daerah harus memperhatikan karakter dari lempeng yang menyusun daerah tersebut. Jika ingin mengamati Sulawesi Barat, maka karakter lempeng yang diteliti harus lempeng Eurasia, sedangkan untuk daerah Sulawesi Tenggara hingga Papua karakter yang harus diamati yaitu sesuai lempeng Australia.

Terdapat banyak tipe cekungan di Indonesia. Untuk itu, perlu untuk diketahui tipe tektonik masing-masing cekungan – cekungan tersebut. Produksi migas Indonesia bagian barat mayoritas memiliki tipe tersier, sementara Indonesia bagian timur berumur pra-tersier. Usaha untuk mencari minyak di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1865. Indonesia mencapai puncak produksi pertama kali pada tahun 1977 dan yang kedua kali tahun 1994. Pada tahu 2001 dibentuk undang-undang baru tentang migas.

Lapangan migas di Indonesia sebagian besar berada di Indonesia bagian barat, karena cekungannya besar-besar. Diperkirakan lapangan migas mencapai lebih dari 1300 lapangan dengan 22 di antaranya adalah lapangan raksasa yang kemudian digolongkan. Tujuh puluh lima juta barel minyak diproduksi di dunia. Konsumsi migas di Indonesia sudah melebihi jumlah yang sanggup diproduksi, sehingga lebih banyak melakukan impor. Trendline ini diperkirakan akan terus terjadi hingga tahun 2025. Cara mengatasinya adalah dengan meningkatkan produksi, mencari sumber lapangan terutama lapangan raksasa baru, dan mempercepat waktu penemuan. Semakin lama waktu penemuan, semakin berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Fakta yang ada saat ini, Indonesia kekurangan minyak, infrastruktur gas belum optimal, cadangan terbukti (siap produksi) migas Indonesia kecil. Kebutuhan impor Indonesia mencapai 1,2 juta barel per hari setara dengan 60% dari seluruh konsumsi migas Indonesia. Hal ini menyebabkan cadangan terbukti migas Indonesia bisa habis lagi, namun secara geologis wilayah eksplorasi Indonesia masih luas.

Dari 128 cekungan, hanya ada 20 cekungan yang telah berproduksi. Artinya, peluang eksplorasi sesungguhnya masih luas. Lapangan migas Indonesia masih banyak yang tersimpan, tertutup sedimen vulkanik. Selama ini, Indonesia cenderung melakukan eksplorasi offshore padahal ada bukti-bukti yang telah menunjukkan migas onshore juga kaya. Tantangan untuk eksplorasi ke depannya adalah membutuhkan data seismik dengan resolusi tinggi. Saat ini belum ada seismic yang menjangkau bawah vulkanik.

Untuk eksplorasi deep water, di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 90-an dan ditemukan banyak lapangan di selat makasar. Saat ini masih sedang dikembangkan, tapi belum diproduksikan. Sedangkan untuk unconventional oil and gas, baru dibuka kontrak CBM pada tahun 2008. Banyak perusahaan yang sudah mengambil lapangan ini, tetapi saat pengerjaan tidak dapat berkembang, terutama kondisi subsurface yang masih muda, sedangkan di Amerika dan Australia sudah tua. Hal ini menyulitkan, karena pada lapisan tipis batubara, gasnya tertekan lapisan air dengan kuat, sehingga tersedot ke lapisan pasir dan penyedotan air pun gagal.

Kompetisi geosaintis yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini yaitu mampu berpikir kreatif dan analitis, secara spatial saat membuat model geologi, mampu berpikir temporal dan historis, mampu mengkompilasi data, mampu berhubungan dengan ketidakpastian, bekerja dalam team, berkomunikasi dengan baik, dan memiliki ide-ide. Solusi atas krisis migas Indonesia yaitu dengan meningkatkan produksi dengan teknologi baru serta menemukan lapangan dan cadangan baru.

Produksi migas tidak menurun karena kurangnya tenaga ahli, justru para ahli terus berusaha agar lapangan tersebut dapat terus berproduksi. Dalam melakukan produksi, banyak dana yang dibutuhkan. Produksi ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.