UI Geoscience Seminar 8

Pada hari Selasa, 13 Februari 2018 telah dilaksanakan seminar mengenai “Peran Ahli Geologi dan Geofisika dalam kegiatan Eksplorasi dan Produksi di Distrik Tambang Ertzberg dan Grasberg, Papua” dengan pembicara Bapak Wahyu Sunyoto, M.Sc selaku Senior VP Technical Support dari PT Freeport Indonesia dan Bapak Aditya Pringgoprawiro selaku Direktur dari PT Eksplorasi Nusa Jaya yang bertempat di Ruang B.101 Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Peserta seminar terbuka untuk umum, namun lebih ditujukan untuk mahasiswa Departemen Geosains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia dan mahasiswa Geosains dari universitas lain.

Sebagai pembuka seminar, salah satu pembicara mengatakan bahwa ahli geologi dan geofisika sangat berperan dalam suatu kegiatan pertambangan, mulai dari tahap eksplorasi hingga tahap produksi. Perkataan tersebut diharapkan dapat memicu semangat mahasiswa geologi dan geofisika dalam mencari dan menggali ilmu kebumian lebih dalam lagi, sehingga di masa yang akan datang dapat berperan pula dalam kegiatan pertambangan. Pertambangan di Indonesia sudah dilaksanakan di berbagai tempat, salah satunya yang dilakukan di Distrik Ertsbeg, Papua.

Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi ketika melakukan eksplorasi di Papua, yaitu diantaranya topografi yang sangat curam dan terjal, hutan lebat yang menyebabkan jarang ditemukannya singkapan batuan, infrastruktur dan akses jalan darat yang sangat terbatas, akses menuju lokasi yang sebagian besar harus melalui udara dengan biaya tinggi, dan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Pak Wahyu sendiri bercerita bagaimana dirinya dulu diterjunkan dari helikopter menggunakan tali untuk mencapai daerah-daerah yang aksesnya teramat sulit. Beliau juga menampilkan foto ketika dia masih muda. Tantangan-tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat orang-orang yang melakukan eksplorasi di sana demi kemaslahatan negeri kita.

Sesudah kegiatan eksplorasi mendapatkan informasi yang cukup, dapat dilakukan feasibilty study untuk menentukan layak atau tidaknya proyek tersebut dilanjutkan. Jika disetujui untuk dilanjutkan, kegiatan eksplorasi akan berlanjut menjadi eksplorasi lanjut, desain tambang, hingga akhirnya penutupan tambang.

Dalam desain tambang di Freeport sudah digunakan metode yang cukup mutakhir. Salah satunya adalah sistem penambangan Block Caving. Sistem penambangan Block Caving merupakan sistem penambangan bawah permukaan. Berbeda dengan sistem penambangan bawah permukaan konvensional di mana runtuhnya batuan amatlah tidak diinginkan, dalam sistem block caving terjadinya runtuhan batuan amat diharapkan. Proses runtuhnya batuan membentuk lubang di bawah permukaan  (caving) yang dilakukan secara terkontrol, dapat dimanfaatkan untuk mengekstraksi batuan bijih yang berharga dan meminimalisir ikut terambilnya batuan non-bijih yang berada di sekitar batuan bijih. Teknologi ini membutuhkan berbagai informasi agar dapat dilakukan dengan benar, baik informasi geologi, geoteknik, dan juga informasi geofisika. Maka dari itulah semua ahli kebumian harus bekerja sama agar kegiatan penambangan dapa dilakukan dengan baik dan benar.

Dalam melakukan kegiatan pertambangan digunakan metode-metode geofisika. Metode geofisika dalam kegiatan eksplorasi dan produksi di industri pertambangan banyak dijelaskan oleh Pak Aditya Pringgoprawiro. Pak Aditya telah lama berkecimpung di eksplorasi geofisika. Beliau menekuni geofisika di PT Eksplorasi Nusa Jaya semenjak memiliki posisi sebagai junior geophysicist hingga sekarang menjadi Direktur di perusahan tersebut.

Penggunaan metode geofisika dalam kegiatan eksplorasi memiliki aturan. Aturan tersebut mengatakan bahwa metode geofisika hanya akan berhasil apabila terdapat kontras atau variasi physical properties dari batuan terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang mengindikasikan adanya keberadaan mineral ekonomis. Aturan lainnya mengatakan bahwa dalam penggunaan metode geofisika, kita harus mengenali target secara geologi. Dengan mengenali target, maka metode geofisika dapat dipilih sesuai dengan sifat dan karakteristik target.

Ada berbagai model deposit mineral, salah satunya yaitu Model Ideal Porphyry (Sillitoe), atau lebih tepatnya yaitu Porphyry Cu-Au. Porphyry Cu-Au berasosiasi dengan alterasi potassic yang biasanya mengandung magnetite. Untuk melihat sifat kemagnetan yang ada, dilakukan survey magnetik untuk memetakan large discrete magnetic anomalies juga memetakan zone magnetic destruction diluar potassic core, seperti Survey Regional Airborne Magnetic yang berjenis Stinger dan Bird, yang akan menghasilkan data berupa intensitas total magnetik. Pemodelan Inversi data magnetik dapat berupa transformasi data magnetik (RTP dan Upward Continuation), resolusi vertikal dengan menggunakan faktor pembobot (Depth Weighting), dan eliminasi data negatif (Positivity).

Selanjutnya, ada metode resistivitas yang digunakan untuk memetakan zone low resistivity yang biasanya berkorelasi dengan clay alteration atau sulphide veining. Kemudian, ada metode Induced Polarization (IP). Polarisasi merupakan efek hasil dari perubahan konduksi elektrolitik dalam cairan pori yang ada pada batuan untuk konduksi elektronik pada antarmuka butir logam (sulfida). Efek IP biasanya dihasilkan oleh sulfida dan disebarluaskan dalam sistem termeralisasi, meskipun beberapa tanah liat, grafit, dan beberapa oksida juga dapat menyebabkan efek IP. IP digunakan untuk memetakan large volumes of disseminated sulphides.

Metode Radiometric merupakan metode yang digunakan untuk memetakan geologi dan alterasi, seperti Survey Ground Radiometric. Airborne Radiometric menggunakan peta radiometric terbaik untuk dikombinasikan dengan data geokimia. Metode ini berguna untuk memetakan litologi berdasarkan distribusi Kalium, Uranium dan Thorium.

Metode magnetotelluric menggunakan sumber sinyal berfrekuensi rendah (kurang dari 1 Hz) dan sinyal berfrekuensi tinggi (lebih dari 1 Hz). Sinyal berfrekuensi rendah yaitu berupa interaksi antara solar wind dengan medan magnetik bumi, sedangkan sinyal berfrekuensi tinggi yaitu berupa badai magnetik. Sumber-sumber sinyal ini membuat variasi waktu gelombang elektromagnetik yang menembus ke bawah permukaan bumi.

Terdapat aplikasi Geofisika yang dapat menunjang produksi tambang, yaitu Audio Magneto Telluric (AMT), Microseismic Monitoring, GPR (Ground Penetrating Radar), Resistivity. Aplikasi tersebut memiliki kegunaannya masing-masing, salah satunya yaitu kegunaan dari Microseismic Monitoring atau pemantauan mikroseismik yang digunakan untuk melihat perubahan tekanan (stress) disekitar tambang akibat proses penambangan. Salah satu bahaya dari perubahan tekanan tersebut adalah meledaknya batuan secara tiba-tiba akibat tekanan yang berlebihan pada batuan tersebut (rock burst). Sistem pemantauan mikroseismik juga digunakan untuk melihat pergerakkan runtuhan pada tambang bawah tanah Block Caving, aktivitas struktur geologi dan aktivitas peledakan. Pemantauan sistem mikroseismik sudah dilakukan secara online yang berarti menggunakan real-time di tambang bawah tanah DOZ, Big Gossan, dan DMLZ, sedangkan untuk tambang bawah tanah GBC masih dalam proses penarikan kabel fiber optic dan instalasi penambahan geophone. Triaksial geophone ditanam dalam lubang drilling yang digali penuh, kemudian masing-masing geophone terhubung ke seismograf yang secara real-time merekam aktivitas seismik disekitar tambang bawah tanah.

Selain itu, pemantauan Ground Penetrating Radar (GPR) adalah pemantauan berbasis metode geofisika yang bertujuan untuk melihat kondisi bawah permukaan (tanah/batuan) berdasarkan sifat batuan tersebut ketika dilalui gelombang elektromagnetik. Di tambang bawah tanah, GPR di gunakan untuk melihat kondisi batuan sampai kedalaman tertentu, apakah kondisinya masih padat dan kuat, ataukah sudah retak-retak dan rusak. GPR juga digunakan untuk melihat batas litologi batuan dan sesar di terowongan. Pengukuran GPR dilakukan berdasarkan permintaan pemilik area apabila ada konsen pada area tersebut yang perlu lebih diperhatikan.

Selanjutnya, pemantauan Tahanan Jenis (resistivity) adalah pemantauan berbasis metode geofisika yang bertujuan untuk melihat kondisi bawah permukaan (tanah/batuan) berdasarkan sifat batuan tersebut ketika dialiri arus listrik. Hasil dari pemantauan tahanan jenis adalah tahanan jenis semu yang merepresentasikan jenis maerial bawah permukaan. Di tambang bawah tanah, metode ini digunakan untuk melihat saturasi air di atas panel (level ekstraksi) yang bisa menyebabkan terjadinya luncuran lumpur basah.