UI Geoscience Seminar 9

Pada hari Selasa, 6 Maret 2018 telah dilaksanakan seminar mengenai “Masa Depan Industri Batu Bara di Indonesia serta Peran Ahli Geologi dan Geofisika” dengan pembicara Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati S.T, M.Sc dari Kepala Bidang Batu Bara Pusat Sumber Daya Mineral Batu Bara dan Panas Bumi bertempat di Ruang B.101 Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Peserta seminar terbuka untuk umum terutama untuk mahasiswa Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Batu bara terbentuk dari sisa-sisa makhluk hidup yang melewati proses coalification sehingga menghasilkan berbagai macam produk. Batu bara memiliki sumber yang berlimpah dan mudah untuk dieksploitasi tanpa proses utilisasi yang rumit. Berdasarkan kegunaannya, batu bara terbagi menjadi dua, thermal dan metalurgi. Thermal dapat untuk pembangkit listrik tenaga batu bara, sedangkan metalurgi untuk untuk industri baja. Karakteristiknya pun berbeda dengan batu bara thermal. Batu bara memegang peran penting untuk kebutuhan energi dunia. Sebagai energi alternatif, ada gas metana yang terperangkap di bawa permukaan, dan ketika dikeluarkan dapat dijadikan energi konvensional. Ketika diubah jadi gas (sintetik), karena di bawah permukaan terlalu jauh, dapat diubah jadi gas fluida dan jika dicairkan, dapat menjadi gasoline.

Ketersediaan energi harus terus ada, sehingga ada perubahan paradigma. Sebelumnya, batu bara dianggap komoditas utama, tanpa memperhitungkan konservasi. Saat ini, nilai batu bara harus ditingkatkan demi mendorong penggunaan energi berwawasan lingkungan dan mereduksi efek samping. Batu bara memang ada di mana-mana tapi juga merupakan bahan bakar fosil yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan perubahan iklim sehingga terbentur issue lingkungan. Peluang batubara hingga saat ini masih tinggi, tapi harus diubah menjadi energi terbarukan (tergaskan, dicairkan).

Sudah banyak negara yang meninggalkan batu bara. Indonesia menjadi salah satu negara penentu bagaimana energi ini dapat dipertahankan (Worldcoal Reducing Emmisions). Ada kedaulatan energi agar tidak mengimpor sumber energi, sehingga batu bara bukan lagi dijadikan komoditas, melainkan menjadi sumber daya. Eskpor dan produksi juga dibatasi agar dapat bertahan hingga seterusnya.

Indonesia adalah pengekspor batu bara terbesar kedua di dunia, tapi tidak  menjadikan energi tersebut sebagai sumber daya di negeri sendiri. Dibutuhkan peningkatan energi terbarukan dan aksesbilitas energi. Pemerintah Indonesia memiliki proyek 35GB listrik, supply besar dari batubara. Hal ini menunjukan bahwa industri batu bara juga masih cukup menjanjikan.

Batu bara juga mengandung REE untuk mobil listrik. Di dalam industri batu bara yang lebih ramah lingkungan, dikenal CO2 sequestration. Dimana CO2 di dalam batu bara ditangkap dan diinjeksikan kembali ke dalam formasi geologi. Peluang lain, microbial coal convertion, proses pembentukan GMB butuh waktu lama, namun gas metana dapat dihasilkan dalam waktu singkat dengan bantuan mikroba. Gas metana yang dihasilkan juga lebih bersih dan ramah lingkungan. Sebagai bioreactor, dengan methanogen, mikroba dapat mengubah bahan organik menjadi methan (arkea) yang menghasilkan humic acids bermanfaat.