UI GEOSCIENCE SEMINAR 15

GEMPA BUMI LOMBOK

Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan gempa dan tsunami seperti Jepang. Itu karena Indonesia berada dalam tiga lempeng (Eurasian, Pasifik dan India-Australia) yang tiap lempeng memiliki pergerakan masing-masing. Karena pertubukan lempeng itulah yang meyebabkan terjadinya gempa tektonik di Indonesia. ada 110 tsunami di Indonesia, 9 kali oleh aktivitas vulkanik, 100 kali oleh tektonik dan 1 oleh pergerakan tanah.

Lombok didorong oleh dua plate sekaligus. Di bawah Lombok ada blankhole (sesar-sesar yang tidak tampak). Diindonesia ada 200 sesar aktif, namun masih ada yang belum terpetakan oleh pusgen2010. Lombok sendiri diapit oleh dua sesar, namun bukan sesar itu yang menyebabkan gempa Lombok. Ada 10 sumber sesar aktif di Sumbawa. Secara peta seisminitas, Indonesia dikelilingi oleh gempa tektonik dalam maupun gempa dangkal. Perbedaan satu SR gempa, peredaan kekuatannya 32 kali. Gempa tertinggi yang terjadi dilombok sebesar 7,0 SR pada 5 Agustus 2018 pada kedalaman 15 KM dan ada warning tsunami selama 5 menit. Geolden time tsunami di Indonesia terjadi dalam 20-30 menit.

Shakemap dapat digunakan untuk para engineering sipil untuk merekonstruksi bangunan tahan gempa. Intensitas adalah ukuran intensitas gempa berdasarkan kerusakan dipermukaan, Lombok termasuk dalam skala VII (kuning).

Gempa Lombok terjadi di utara Gunung Rinjani. Efek dari gempa Lombok adalah rusaknya infrastruktur, lahan terbelah, liquifikasi samai subsiden. Kerusakan terparah terdapat di barat laut pulau Lombok. Terjadi liquifaksi seperti tanah terbelah dan keluarnya lumpur namun tidak sebesar di Palu, dampaknya dapat merusak bangunan. Bangunan bambu dan kayu umumnya tidak megalami kerusaan karena bersifat elastis.

Dari hasil pengamatan makroseismik (survey lapangan) terjadi kerusakan yang parah di kabupaten Lombok utara, karena kosntruksi di bawah standar, jarak dekat dengan sumber dan lain sebagainya. Edukasi kepada masyarakat masih kurang terhadap bencana tsunami dan gempa bumi.

GEMPA BUMI PALU

14 Agustus 1968 pernah terjadi gempa di tempat yang sama dan terjadi tsunami juga. Gempa bumi palu adalah strike-slip dengan lebih dekat ke darat, magnitude 7,7 SR. Gempa donggala 7,4 SR pada 28 September 2018. Pada data seismogram yang didapatkan digempa Palu, terjadi anomali yaitu adanya gelombang lain setelah geombang S tiba. Karena letak kota palu dekat dengan sungai maka memungkinkan terjdinya liquifikasi yang besar disepanjang garis sungai yang dimana sungai sebagai jalan tolnya tsunami.

Dampak terbesar akibat tsunami dan gempa bumi di palu karena adanya liquifaksi. Yang mengakibatkan banyak konstruksi rumah hancur dan ambles. Sehingga banyak infrastruktur yang rusak berat.