UI Geoscience Seminar 6

Pada hari Selasa, 28 November 2017 telah dilaksanakan seminar mengenai “Pengembangan Riset Geosains Kelautan Untuk Mitigasi Bencana” dengan pembicara Dr. Nugroho Dwi Hananto, M. Si di Ruang B.101, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Peserta seminar terbuka untuk umum, terutama untuk mahasiswa Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Geosains Kelautan dibahas pada 3 cabang ilmu yaitu geologi, geodesi, dan seismologi dengan tantangan human resource, research infrastructure, policy, dan funding. Fokus yang dipelajari di sini adalah mengenai zona subduksi, tsunamigenic dan gempa tsunami, pergerakan dari kerak samudra, patahan aktif, submarine mud volcano, dan natural resources. Cara pengukuran riset pada mitigasi bencana ini adalah multiclient data, public private partnership, dan kolaborasi dengan institusi lokal.

Telah dilakukan Milestones riset geosains kelautan di Indonesia pada tahun 70’ sampai 80’ yang pada sekitaran tahun tersebut baru diketahui tentang teori tektonik lempeng, adanya kolaborasi antara National Institute of Geology and Mining (NIGM, yang sekarang bernama Research Center for Geotechnology, LIPI) dengan Scripps Institution of Oceanography dengan pelopor Karig, Moore, Silver, Katili, Hehuwat, dan Suparka. Diteliti juga struktur dari zona subduksi (accretionary prism, patahan aktif, dan lain-lain). Pada tahun 1990 hingga 2000-an, terdapat enam kapal penelitian, satu kapal tersebut didedikasikan untuk geologi / geofisika dan satu multichannel seismic dan multibeamechosounder, diadakan pula Digital Marine Resource Mapping (DMRM) dan Deep ROV dive in Sunda Trench (JAMSTEC).

Pengetahuan yang mendalam antarmuka zona subduksi yang bergerak selama gempa megathrust adalah sangat penting untuk mitigasi gempa dan tsunami. Untuk mencitrakan struktur sedalam kurang lebih 30 km di bawah dasar laut dapat digunakan perekaman seismisitas global dimana zona seismogenik ditentukan dengan aproksimasi kurva yang menghubungkan hiposenter gempa aftershocks, perekaman gempa aftershocks menggunakan stasiun lokal (OBS apabila di laut), menggunakan sistem seismik refraksi untuk menentukan model kecepatan medium permukaan dan antarmuka utama. Dari model ini, diperkirakan letak zona seismogenik dan menggunakan seismik pantul guna mencitrakan struktur bawah permukaan secara sangat detail.

Sistem seismic refraksi adalah OBS disebarkan di sebuah kapal, menggunakan sumber airgun untuk memicu adanya gelombang, OBS merekam sinyal seismic, dan OBS terecovery di kapal pada akhir penelitian. Sementara sistem pantul yang mana dapat menghasilkan struktur bawah permukaan yang sangat kecil memiliki beberapa masalah yaitu adanya multiples dan scattering, terbatasnya daya tembus sinyal seismik, rendahnya rasio sinyal, dan tingginya
perubahan kecepatan secara lateral.