UI Geoscience Seminar 2

Pada hari Rabu, 22 Maret 2017 telah dilaksanakan seminar mengenai “Geoscience for Human Survival” dengan pembicara Prof. Dr. Jan Sopaheluwakan dari Indonesia International Institute for Urban Resilience and Infrastructure bertempat di Ruang B101 Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Peserta seminar terbuka untuk umum terutama untuk mahasiswa Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Evolusi Kehidupan di Bumi

Planet berkehidupan di alam semesta hanyalah bumi, karena bumilah yang memiliki suhu yang memadai, air, udara atau atmosfer, lapisan pelindung manetosfer, dan lapisan ozon. Sedangkan Mars merupakan planet yang sudah mati, karena sudah tidak ada tektonik lempeng. Tektonik lempeng pula yang menyebabkan bumi masih dikatakan “hidup”. Menurut Earth System Cycle, bumi terbagi menjadi lapisan litosfer (mengalami proses tektonik), hidrosfer, dan atmosfer yang kesemuaannya membentuk biosfer.

Pada era masa kini, teori tektonik lempeng yang berkembang di kalangan ilmuwan adalah Plume Tectonics. Teori ini merupakan gabungan dari teori Plate Tectonics dengan Seismic Tomography. Teori plume tectonics ini baru mulai dikembangkan sejak awal tahun 90an. Proses adanya plume inilah yang memicu terjadinya evolusi di bumi seperti evolusi manusia yang berasal dari kera yang secara bertahap, keturunannya dapat berjalan dengan dua kaki menjadi manusia. Plume Tectonics pula yang menyebabkan supercontinent menjadi terpisah-pisah seperti saat ini.

Pemisahan supercontinent menjadi continent-continent kecil menyebabkan kehidupan yang berasal dari cerobong vulkanik dasar laut naik ke continent-continent. Plume tectonics juga yang menyebabkan adanya suatu masa dimana terjadi guncangan besar yang menyebabkan kepunahan besar.

Isu-Isu Kebumian dan Kebersintasan Manusia

Pada umumnya, masyarakat mengaitkan pemanasan global dengan perubahan iklim. Pada kenyataannya, dua hal tersebut tidaklah berkaitan. Pemanasan global berkaitan dengan gas CO2, sedangkan perubahan iklim berkaitan dengan pola iklim yang disebabkan peristiwa El Nino. Pada dasarnya, pemanasan global sudah terjadi dari sejak lama. Indonesia merupakan zona pertemuan banyak lempeng yang menyebabkan adanya lempeng yang terperangkap di antara lempeng-lempeng besar lainnya. Letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa menyebabkan perairan laut Indonesia memiliki suhu yang hangat, terutama di sekitar selat Lombok dan selat Makassar.

Permukaan air laut akhir-akhir ini cenderung naik, sehingga diperkirakan 5,71% daratan di Indonesia akan hilang. Peningkatan suhu akibat peristiwa El Nino tak hanya berdampak pada kenaikan permukaan laut, tetapi juga menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan gagal panen.

Isu-isu kebumian dan kebersintasan manusia lainnya adalah tentang kebencanaan. Semakin sering gempa bumi terjadi, maka semakin rendah magnitudenya. Gempa bumi pada dasarnya bukanlah sebuah bencana, karena selalu terjadi kapanpun, namun dengan magnitude yang kecil. Gempa bumi berubah menjadi bencana jika peristiwanya jarang terjadi dan memiliki magnitude yang besar. Gempa bumi dasar laut dapat menyebabkan tsunami yang besar, karena gempa yang berjalan selama kurang lebih 8 menit menyebabkan terjadinya gelombang air yang besar. Terjadinya gempa dapat mempengaruhi tinggi atau rendahnya suatu daratan.

Ada dua macam bencana, yaitu bencana mendadak dan bencana berangsur. Bencana yang terjadi secara berangsur seringkali diabaikan oleh manusia padahal intensitasnya dapat meningkat. Contoh dari bencana berangsur adalah banjir dan macet. Kekeliruan dalam memanajemen lingkungan adalah faktor utama penyebab terjadinya bencana.

Geosains UI Menatap Masa Depan

  • Belajarlah dari masa lalu dan masa kini untuk menyiapkan masa depan
  • Dibutuhkan keahlian untuk mengintegrasikan kedisiplinan. Pendekatan kedisiplinan ini dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan “T Shape”
  • Mulai perhatikan perubahan iklim dan masalah lainnya
  • Bekerjalah secara sistematis, jujur, analitis, dan open minded

Renungan Penutup

“Bencana menjadi bencana karena ketidaktahuan dan keserakahan manusia.”