PEMANFAATAN SUMUR MINYAK DAN GAS YANG DITINGGALKAN UNTUK SUMUR PANASBUMI LOW-MODERATE ENTHALPY DENGAN SISTEM ENHANCED GEOTHERMAL SYSTEM (EGS)

Oleh: William Jhanesta (Geofisika ’17)

 

Eksplorasi minyak dan gas bumi bisa dikatakan sebagai kegiatan eksplorasi energi yang tua usianya dibandingkan eksplorasi energi lain. Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi tentunya akan berujung pada proses pemboran jika mencapai tahap berhasil. Di beberapa tempat, seperti di negara bagian California, terdapat banyak sumur minyak dan gas yang sudah ditinggalkan (abandoned well) karena sudah tidak berproduksi lagi. Secara defnisi, abandoned well diartikan sebagai sumur yang secara permanen tidak digunakan lagi (Arthur & Hocheiser, 2016). Sumur-sumur yang ditinggalkan dapat memberikan informasi-informasi penting mengenai kondisi bawah permukaan, seperti litologi, temperatur, dan porositas formasi (Caulk & Tomac, 2017).

Indonesia memiliki beberapa titik sumur tua yang sudah ditinggalkan dengan karakteristik mengandung komposisi air terproduksi yang tinggi (Purba et al, 2019). Selain itu, presentase air dibandingkan minyak umumnya meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan kebanyakan lapangan minyak telah mencapai kadar air terproduksi cukup tinggi, yaitu berkisar di angka 95% (Li, 2012). Tentunya hal ini dapat dikembangkan dengan studi lanjutan daripada membiarkan sumur-sumur tua terbengkalai.

Saat ini, banyak studi-studi yang dilakukan untuk memanfaatkan sumur minyak dan gas bumi yang sudah ditinggalkan, salah satunya untuk dimodifikasi menjadi sumur geothermal berentalpi rendah sampai sedang dengan teknologi Enhanced Geothermal System (EGS). EGS sendiri merupakan sebuah teknologi pemanfaatan energi termal yang berasal dari hot dry rock dengan melakukan hydraulic fracturing. Secara umum, EGS diaplikasikan pada kondisi litologi batuan beku, misalnya granit, di mana fluida bermigrasi pada hot crystalline mass karena adanya proses ‘perekahan’ batuan secara buatan untuk meningkatkan permeabilitas batuan tersebut. Dalam hal ini, hydraulic fracturing tidak bekerja demikian karena sumur minyak dan gas bumi umumnya memiliki litologi berupa sedimen yang memiliki permeabilitas tinggi. Hal yang terpenting di sini adalah litologi pada sumur haruslah dapat men-support high flow rates dan minimum kehilangan fluida (Caulk & Tomac, 2017). Sudah ada beberapa penelitian yang menunjukkan sifat tersebut bisa diaplikasikan pada sandstone, selain itu ada beberapa bukti yang menunjukkan terjadinya anomali hidrotermal secara alami pada sandstone mirip pada granitic plutons (Loucks et al, 1981) sehingga dalam hal ini teknologi EGS dapat digunakan.

Gambar 1. Diagram Lindal (Reyes, 2007)

Pemodelan matematis berbasis fisika dapat digunakan dalam penentuan korelasi kedalaman sumur dan gradien temperatur yang tentunya berhubungan dengan besarnya temperatur fluida yang dapat diproduksikan. Sumur dengan kategori entalpi menengah dapat digunakan sebagai pembangkit listrik, sedangkan sumur berentalpi rendah dapat digunakan untuk alternatif lainnya, seperti penghangat kolam ikan, pengering gerabah, atau pemanfaatan langsung lainnya seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

 

 

 

REFERENSI

Arthur, J.D. & Hochheiser, H.W. 2016. Plugging and Abandonment of Oil and Gas Wells.Working Document of the NPC North American Resource Development Study

Caulk, R.A. & Tomac, Ingrid. 2017. Reuse of Abandoned Oil and Gas Wells for Geothermal Energy Production. Journal of Renewable Energy. Vol 112. 388-397.

Li, T. et al. 2012. Cascade Utilization of Low Temperature Geothermal Water in Oilfield Combined Power Generation, Gathering Heat Tracing and Oil Recovery. Applied Thermal Engineering, 40, 27-35.

R.G. Loucks, et al. 1981. Factors Controlling Reservoirs Quality in Tertiary Sandstones and Their Significance to Geopressured Geothermal Production. Texas University, Austin. Bureau of Economic Geology.

Reyes, A. 2007. Abandoned Oil and Gas Wells: A Reconnaisance Study of An Unconventional Geothermal Resource. GNS Science.