Gunung Krakatau, Riwayatmu Dulu dan Kini?

Oleh: Muhammad Alzaid Ponka (Geologi ’16)

 

Rupanya gelap nyatalah tentu,

Di atas langit terang suatu,

Sebab terang api di situ,

Kiri dan kanan datangnya itu.

— “Sepenggal Syair Lampung Karam” (1888)

Ketika dunia meledak, 27 Agustus 1883 salah satu dari puluhan gunung api aktif yang berlokasi di Selat Sunda, Indonesia. Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat yang telah diakui oleh salah satu peneliti dunia yakni E. Behrendt, 1946 menyebutkan “The earth’s most awful blast”. Kini bekas letusan tahun 1883 tersebut, mulai 1928 munculah gunung api baru yang bernama Gunung Anak Krakatau. Sama halnya dengan pendahulunya, Anak Krakatau ialah gunung api yang dimungkinkan meletus kapan saja dan menyebabkan bencana alam.

Gbr. 1 Gunung Anak Krakatau. travel.grivy.com

Walaupun Gunung Anak Krakatau menyimpan sejarah yang cukup mengerikan dalam sejarah manusia modern, faktanya gunung ini menyimpan hal yang unik. Berada di kawasan “Lingkaran Api Pasifik”, Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak buruk tetapi turut andil membantu Indonesia mempunyai lahan yang sangat subur. Keindahan yang tak pernah dilupakan adalah keberadaannya di tengah lautan. Jika kita menyebrang melalui kendaraan laut dari pulau Jawa ke Sumatera atau sebaliknya, maka mata kita terlihat pada eksotisme gunung tersebut saat melewatinya. Hal yang patut dibanggakan lainnya adalah Gunung Krakatau berhasil meraih juara Volcano Cup 2018 mengalahkan 39 gunung dari belahan dunia seperti Selandia Baru, Meksiko, Chile, Jepang, Islandia, Italia, dan lain-lain. Untuk telusur lebih jelas Gunung ini mari kita bahas dari karakteristik, riwayat letusan, letusan tahun 2018, dan fakta unik lainnya.

Gbr. 2 Lokasi Anak Gunung Krakatau. Google Earth.

Secara geografis, Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda yang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Gunung Anak Krakatau memiliki ketinggian kurang lebih 813 m dari muka laut, tipe bencana letusan berupa strombolian dan vulkanian. Menurut ESDM, 2014 merilis pernyatan bahwa periode letusan bencana Gunung Anak Krakatau antara 1-8 tahun dan rata-rata antara 2-4 tahun sekali. Anak Gunung Api ini tumbuh 4 meter per tahun sejak letusan besar tahun 1883 tersebut.

Gbr. 3 Ilustrasi Tipe Letusan Gunung Api. pelajaransekolahonline.com

Letusan strombolian ialah letusan berupa lelehan lava pijar yang keluar dari mulut gunung api dengan interval waktu tertentu karena sifat magma yang encer. Gunung Anak Krakatau mempunyai nilai VEI (Volcanic Eksplosivity Index) sebesar 2 hingga 4 (Sumintadireja, 2014). Selain itu, material erupsi yang dihasilkan gunung ini berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava (Sumintadireja, 2012). Gunung Api Krakatau telah mengalami penghancuran tubuhnya membentuk kaldera sebanyak tiga kali dan Gunung Api Anak Krakatau adalah proses pertumbuhan yang ketiga kalinya.

Riwayat letusannya terhitung Gunung Anak Krakatau telah meletus sebanyak lebih dari 100 kali baik sifatnya efusif maupun eksplosif. Kejadian yang sangat perlu diingat adalah tahun 1883. Pada tahun 1883 terjadi peningkatan seismisitas di sekitar perairan Selat Sunda. Gerakan lempeng tektonik dan tekanan tinggi dari bawah dapur magma merupakan pemicu dari bencana letusan Gunung Api Krakatau kala itu. Letusan dahsyat tersebut memuntahkan batu apung dan debu dalam jumlah besar, disertai dengan batu yang terbentuk akibat pendinginan lava (Verbeek 1984).

Gbr. 4 Ilustrasi Krakatau 1883. Fine Art America.

“Dan aku membatin: Aku akan memberi nyawa pada semua orang ini, sekali lagi, agar bisa melihat hal yang begitu indah itu lagi.”

(Pemandu kapal Belanda di Anyer, dikutip dalam cerita pendek “Krakatau,” sebuah cerita pendek karya novelis Jim Shepard, 1996.)

Menurut Verbeek (1885), tiga terakhir bulan itu (26, 27, dan 28 Agustus) dilalui dengan letusan besar yang tiada hentinya, awal mulanya dalam interval 10 menit dan lama kelamaan berkepanjangan. Kejadian sekaratnya Krakatau berlangsung selama 20 jam 56 menit, yang mencapai klimaks letusannya pada pukul 10.02 pagi. Hal ini mengakibatkan 36.417 korban jiwa nyawanya terhempas begitu saja, suhu rata-rata bumi turun 1,2 derajat dalam lima tahun berturut-turut, tsunami setinggi 46 meter, dan menghempaskan 70 persen pulau tempatnya berada. Peneliti Sluiter, 1889 adalah seorang ahli biologi koral mengungkapkan pada waktu tsunami, sebagai dampak dari Gunung Krakatau meletus, banyak terumbu karang hancur tanpa sisa bahkan terlempar hingga ke pesisir pantai Anyer dalam bentuk bongkahan. Pada tahun 2006 diadakan ekspedisi penyelaman lanjutan untuk mengamati pertumbuhan terumbu karang di sekitar lagun Cabe. Hasilnya adalah pertumbuhan terumbu karang di daerah tersebut sangat baik dan beraneka ragam.

Gbr. 5 Terumbu karang di Pantai Anyer. Jurnal Geologi Indonesia

Isu terbaru dan utama terkait Gunung Api Krakatau saat ini adalah kembali letusnya pada tanggal 25 Juni 2018. Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau meletus dengan ketinggian kolom abu lebih dari 1000 meter dari permukaan laut. Status terkini Gunung tersebut dalam keadaan waspada (level 2). Menurut PVMBG, Gunung Anak Krakatau telah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018. Hingga hari Sabtu 14 Juli 2018 kemarin, Gunung Anak Krakatau telah meletus sebanyak hampir 400 kali. Durasi letusannya adalah kisaran 20 detik hingga 4 menit. Pertanyaan yang sering terlontarkan oleh masyarakat adalah apakah peristiwa dahsyatnya letusa Krakatau 1883 akan terulang kembali ? Sederhananya perlu diperhatikan durasi waktu istirahat gunung tersebut. Waktu istirahat tersebut berhubungan dengan akumulasi energi untuk menekan hingga bagian atas gunung apinya. Faktor geokimia juga turut berperan penting terhadap aktivitas gunung api tersebut. Beberapa asumsi mengatakan kondisi magma Gunung Anak Krakatau berada di level andesitik-basaltik ketika memasuki fase riolitik atau asam maka bisa membayang ke letusan proksimal.

Lupakan soal bahaya letusannya, kini kita sebagai calon ahli Geologi memiliki banyak peluang di bidang riset vulkanologi atau mitigasi bencana Gunung Anak Krakatau ini. Perlunya sosialisasi dan antisipasi sejak dini seperti dikeluarkannya peta kawasan rawan bencana oleh PVMBG, dibentuknya pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasaruan Banten dan Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Upaya-upaya tersebut sebagai langkah strategis untuk meminimalisasi dampak buruk kepada masyarakat di kemudian hari.

Gbr. 6 Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau. sindonews.net

Selain upaya mitigasi bencana, hal unik yang dapat dimafaatkan oleh masyarakat terhadap Gunung Anak Krakatau ini adalah potensi parawisatanya cukup menjanjikan. Beberapa oknum atau masyarakat sekitar bekerja sama dengan pemerintah menyelenggarakan beberapa acara seperti “Sail to Krakatau” agar wisatawan dapat mempelajari Gunung Krakatau. Terhitung 1500 wisatawan yang hadir saat itu pada tahun 2017. Pembuatan cagar alam krakatau dan Lampung Krakatau Festival yang mempromosikan pariwisata Lampung ke wisatawam lokal maupun mancanegara. Banyak sekali manfaat yang diambil keistimewaan dari Gunung Api Anak Krakatau. Bahkan tahun 1893, pelukis terkenal Edvard Munch asal Norwegia terinspirasi oleh kejadian bersejarah tersebut dan menghasilkan karya “The Scream”.

Gbr. 7 The Scream. IDNtimes.

 

Referensi:

Bemmelen, R.W., van, 1949. The geology of Indonesia, IA. General Geology of Indonesia and Adjacent    Archipelagos. The Hague, Govt. Printing Offi ce, 732 h.

Sumintadireja, P. 2012. GL3142: Volkanologi dan Geotermal. Bandung: Penerbit ITB

Suryadi. 2009. Syair Lampung Karam, Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883. Padang:KPSP

Sutawidjaja, I. S. 2006. Pertumbuhan Gunungapi Anak Krakatau setelah Letusan Katastrofis 1883.Jurnal Geologi   Indonesia vol. 1 no. 3 hlm. 143-153.

Winchester. 2006. Krakatau Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta