Geologi Forensik: Mengungkap Kebenaran Melalui Ilmu Kebumian

Oleh: Felix Andrean (Geofisika ’15)

Sebuah cekikan tanpa darah mengakhiri hidup sang selingkuhan. Alibi telah disusun, dan ketiadaan saksi mata membuatnya tak terbantahkan. 1904 juga bukanlah tahun dimana uji DNA telah ditemukan. Dengan demikian, sang pembunuh menganggap dirinya mustahil tertangkap. Namun, sebuah hal tak terduga membuatnya diseret ke pengadilan.

Adalah Georg Popp, seorang ahli geologi Jerman yang tiba-tiba ditugaskan untuk mengungkap sebuah pembunuhan di kotanya, dimana Eva Disch, seorang wanita telah dijerat hingga tewas dengan selendangnya sendiri. Satu-satunya petunjuk hanyalah selembar kain kotor dengan lendir bercampur debu batu bara, tembakau, dan yang paling menarik buatnya, serpihan mineral hornblende. Hasil penelusurannya mengarah kepada Karl Laubach, seorang pekerja paruh waktu yang bekerja di pengolahan batu bara dan tambang batu kerikil yang diduga memiliki hubungan dekat dengan sang korban.

Popp tidak dapat membuktikan keterlibatan Laubach hanya dengan kain tersebut, sebab jumlah pekerja tambang di daerah tersebut banyak, dan hubungan dekat belum tentu mengindikasikan keterlibatan tersangka. Kendati demikian, sang ahli geologi tidak kehabisan akal. Popp meminta celana jeans tersangka dan dengan hati-hati mengambil sampel tanah kering darinya. Dengan bantuan mikroskop, ditemukanlah dua lapisan tipis tanah berbeda jenis, dimana lapisan terdalam cocok dengan sampel tanah tempat ditemukannya jenazah, dan lapisan terluar cocok dengan debu jalanan menuju rumah Laubach. Sebuah kesimpulan pun ditarik: Laubach membunuh Disch dan kembali ke rumah tanpa sempat mencuci celananya. Mengetahui kedoknya terbongkar, Laubach pun mengakui perbuatannya dan diserahkan kepada pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Membaca kisah tersebut tentunya mengingatkan kita pada cerita detektif klasik ala Sherlock Holmes. Hanya saja, yang menjadi jurus utama sang detektif adalah ilmu geologi sederhana, seperti dasar mineralogi ketika hornblende ditemukan di selembar kain dan prinsip stratigrafi dimana lapisan terluar terendapkan terakhir. Dan yang lebih menarik lagi, kisah tersebut nyata terjadi pada tahun tersebut, dan penggunaan geologi sebagai alat pemecahan kasus memang telah “diramalkan” oleh Sir Arthur Conan Doyle dalam buku serial detektifnya yang terkenal, Sherlock Holmes, antara tahun 1887 hingga 1893. Hal ini menunjukkan bahwa ide geologi sebagai metode forensik bukanlah hal yang baru, meskipun jarang dibahas sehingga terdengar asing di telinga.

Lantas, apakah dengan adanya perkembangan teknologi masa kini berupa uji DNA membuat geologi forensik menjadi tergusur? Ternyata tidak. Geologi forensik tetap dapat menjadi teknik yang mumpuni dalam menyelesaikan berbagai kasus. Misalnya, kasus pencurian dapat diselesaikan bila pada benda curian masih melekat debu, pasir, maupun tanah dari tempat lamanya, yang akan menunjukkan asal mula benda tersebut. Sebuah kasus tabrak lari juga dapat terungkap dari tanah yang terlepas dari bumper sebuah mobil, maupun jejak tanah yang ditinggalkan oleh roda. Bahkan dengan perkembangan ilmu geofisika, kasus-kasus yang sebelumnya sulit untuk dibuktikan juga dapat diselesaikan dengan cepat. Mythbusters, sebuah acara televisi Australia pernah menggunakan GPR (Ground Penetrating Radar) untuk membuktikan mitos keberadaan mayat yang terkubur di dalam fondasi beton sebuah stadion. Walaupun hasilnya nihil, metode tersebut telah membuktikan bahwa fondasi stadion tersebut memang padat dan tidak ada kerangka manusia di dalamnya. Kasus yang lebih besar lagi juga pernah terungkap, seperti kuburan massal korban Tentara Republik Irlandia (IRA), maupun korban perang saudara di Spanyol.

Lalu, seberapa besar peluang geologi forensik untuk diterapkan di Indonesia? Sangat besar, dan peluangnya sangat banyak. Misalnya, kasus kuburan fiktif yang merebak di DKI Jakarta, pencarian kuburan masal korban pembantaian era Orde Baru, maupun pengembalian objek museum yang hilang. Banyak kasus dingin yang menunggu, dan geologi forensik sangat mungkin untuk menjadi jawaban atas pertanyaan yang belum terselesaikan hingga saat ini.